pertanian 1Pertanian menjadi bagian nafas dari masyarakata Grobogan sebab sebagian besar penduduknya menggantungkan pada bidang ini. Data terakhir BPS setempat menyebutkan total dari 1.408.959 jiwa sebanyak 380.051 adalah petani. Jadi jangan heran kalau Grobogan masuk sebagai lumbung padi nasional, atau masuk sebagai sentra semangka, bahkan sebagai tempat lahirnya varietas tanaman pertanian jenis baru.

Sayangnya, petani Grobogan cenderung fokus pada produksi pertanian. Usai panen, seluruh hasil pertanian langsung berlarian ke luar wilayah dalam bentuk masih tetap sebagai hasil produksi. Hal ini diartikan bahwa dalam masyarakat Grobogan terdapat sebuah cara pandang tersendiri tentang pertanian. Dalam arti sempit hanya sebatas usaha bercocok tanam. Sehingga mereka mengacu pada peningkatan produksi dalam rangka mencapai swasembada pangan.

Akhirnya pemikiran mereka luput untuk mengembangkan hasil produksi pertanian sebagai sebuah peluang ekonomi yang mampu meraup devisa. Paradigma yang sempit tentang pertanian tersebut harus digantikan dengan paradigma baru pertanian modern. Paradigma yang dimaksudkan adalah paradigma Agribisnis.

Inilah yang saat ini dilirik Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura (DPTPH) Grobogan. Perubahan paradigma ini sangat penting mengingat sikap dan perilaku seseorang atau pengambil keputusan akan sangat ditentukan oleh paradigma atau cara pandangnya terhadap permasalahan. Dengan paradigma baru pertanian (Agribisnis) ini akan diperoleh dimensi baru dan pemahaman baru yang lebih lengkap dalam memandang sektor pertanian.

”Dalam lima tahun ke depan Kabupaten Grobogan akan lebih fokus pada pengembangan agribisnis. Tujuannnya meningkatkan pendapatan petani serta peningkatan produktivitas hasilnya,” kata Kepala DPTPH Edhie Sudaryanto.

Hal ini diartikan nantinya masyarakat petani memiliki kegiatan pertanian berkelanjutan. Dimana mereka tidak lagi berhenti dengan memetik hasil produksi dan lantas menjualnya begitu saja. Tetapi mereka akan mencoba menciptakan produk baru dari hasil produksi pertaniannya.

”Sebagai contoh hasil jagung, bisa diubah menjadi bahan makanan kecil, atau diubah menjadi menjadi barang lainnya yang berbahan baku dari jagung. Dengan begitu akan muncul sektor usaha lainnnya yang dapat mendukung kontinuitas produksi pertanian,” jelasnya

Berdasarkan cara pandang baru diatas, jelaslah bahwa setiap komoditas pertanian mempunyai suatu sistem agribisnis yang terdiri dari berbagai subsistem fungsional yang terintegrasi satu sama lain secara vertikal. Hubungan antara sektor pertanian dengan sektor industri pun menjadi sangat erat dan saling tergantung satu sama lain dalam paradigma diatas. Agribisnis mencakup seluruh kegiatan di sektor pertanian dan sebagian dari sektor industri yang menghasilkan sarana produksi pertanian (Agroindustri Hulu) dan mengolah hasil-hasil pertanian (Agroindustri Hilir).

Berangkat dari kondisi tersebut, petani Grobogan dengan dukungan pihak lainnya harus mulai bersiap menyusun sebuah kerangka dasar pembangunan pertanian yang kokoh dan tangguh untuk menuju agribisnis.

”Artinya pembangunan yang dilakukan harus didukung oleh segenap komponen secara dinamis, ulet, dan mampu mengoptimalkan sumberdaya, modal, tenaga, serta teknologi sekaligus mampu menciptakan kesejahteraan masyarakat,” tandasnya.